CILACAP ,LIN-RI.id – Sikap alergi terhadap kontrol sosial ditunjukkan secara vulgar oleh manajemen Gudang BULOG Gumilir Cilacap. Akses informasi publik mengenai karut-marut administrasi program bantuan pangan kini sengaja ditutup rapat oleh pihak gudang dengan dalih birokrasi yang dinilai mengada-ada.
Hadangan tersebut dialami langsung oleh sejumlah jurnalis dari media Lin-ri.id dan MPN saat hendak melakukan konfirmasi di gerbang pos sekuriti Bukannya mendapatkan transparansi atas kejanggalan dokumen administrasi negara yang tengah diselidiki, para kuli tinta ini justru tertahan di pintu gerbang layaknya ancaman keamanan.
Petugas keamanan (Satpam) yang berjaga, Junianto, secara tegas menyatakan bahwa Kepala Gudang BULOG Gumilir, Teo, menolak menemui wartawan secara langsung. Junianto berdalih, berdasarkan perintah sang kepala gudang, setiap jurnalis dari Lin-ri.id, MPN, maupun media lainnya wajib membawa surat izin tertulis dari Kantor Cabang BULOG Purwokerto jika ingin meminta klarifikasi.
“Mohon maaf, instruksi dari Pak Teo, kalau mau konfirmasi atau wawancara harus ada surat izin tertulis dari Kantor Cabang Purwokerto dulu. Tanpa surat itu, tidak boleh masuk,” cetus Junianto di lokasi kejadian.
Sikap bungkam Kepala Gudang Teo yang berlindung di balik punggung satpam dan formalitas izin cabang ini memicu kecurigaan kuat. Langkah tersebut diduga sengaja dipakai sebagai taktik mengulur waktu guna menutupi borok serta kejanggalan administrasi bantuan beras masyarakat miskin yang kini tengah disorot.
Aksi pembatasan ini jelas menabrak Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan UU Keterbukaan Informasi Publik. Sebagai lembaga negara yang mengelola komoditas bersubsidi untuk rakyat, BULOG Gumilir tidak sepatutnya bersikap eksklusif dan antikritik. Hingga berita ini naik cetak, pihak manajemen gudang tetap mengunci rapat pintu informasi dari kejaran awak media.tri
Tim”














Komentar