PANGANDARAN, 26 AGUSTUS 2026 — Proyek Pembangunan Irigasi Perpompaan (IRPOM) yang dilaksanakan oleh Kelompok Tani Bina Panca Marga di Desa Jangraga, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, menjadi sorotan publik menyusul ditemukannya indikasi ketidaksesuaian metode penanaman jaringan perpipaan (pipe laying) di lapangan.
Berdasarkan papan informasi proyek, kegiatan ini didanai melalui APBN Tahun Anggaran 2026 di bawah naungan Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP Kelas I Bandung) dengan nilai kontrak sebesar Rp155.700.000 (Nomor SPK: 32.18.20.IRFOM/Ktps/PPKLI P.2.9.1/SPK/05/2026). Masa pelaksanaan proyek tercatat mulai 25 Mei hingga 31 Desember 2026.
Indikasi Ketidaksesuaian Metodologi Penanaman Pipa
Hasil peninjauan langsung di lokasi menunjukkan adanya potensi penyimpangan terhadap Standard Operating Procedure (SOP) dan spesifikasi teknis penggalian jalur pipa (trench excavation):
Minimalisasi Kedalaman Parit (Shallow Trenching): Sebagian jalur pipa terindikasi dipasang pada elevasi kedalaman yang terlampau dangkal, sehingga tidak memenuhi standar bedding dan perlindungan mekanis pipa.
Pengurugan Tanpa Galian (Surface Laying & Backfilling): Pada segmen tertentu, pipa tampak hanya diletakkan di atas permukaan tanah lalu ditimbun (over-fill) tanpa melalui prosedur penggalian struktur parit yang memadai.
Risiko Dampak Struktural: Metode penanaman yang tidak memenuhi kedalaman cover depth berpotensi mengompromikan ketahanan pipa terhadap beban tekanan permukaan (live loads), risiko pergeseran tanah, serta paparan radiasi UV eksternal yang mempercepat degradasi material.
Pentingnya Audit Teknis dan Verifikasi Lapangan
Kesesuaian volume pekerjaan fisik (mutual check) dan kepatuhan terhadap dokumen gambar kerja (as-built drawing) memerlukan uji petik teknis secara menyeluruh dari Konsultan Pengawas serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Pengukuran ulang terhadap dimensi lebar parit, kedalaman galian, hingga kualitas pemadatan tanah timbunan (backfill compaction) menjadi parameter mutlak sebelum proses serah terima pekerjaan (Handover) dilakukan.
Hingga rilis ini diterbitkan, Ketua Kelompok Tani Bina Panca Marga, Eman, belum memberikan keterangan atau klarifikasi teknis terkait metodologi pipe laying yang diterapkan di lapangan.
Sebagai proyek bersumber APBN yang bertujuan meningkatkan efisiensi distribusi air irigasi serta mendukung ketahanan pangan lokal, pengawasan mutu (quality control) yang independen dan transparan sangat diperlukan guna menjamin keandalan fungsi infrastruktur dalam jangka panjang.
Redaksi.















Komentar